Tuesday, December 30, 2008

gj

heyo kawans-kawans -__- iseng nih gue ngisi blog, eh tapi gak apa-apa kan ye? ah gak apa-apa dong -,-

Friday, December 5, 2008

apa yang terjadi di kfc?

kemarin ya, si Phl kan sudah janjian sama si Y, naaaaaah lalu gue, Phl, Andhini, Melinda, dan Fiqih, menunggu sang Y. setelah lebih dari 45 menit kita menunggu di kfc, sang Y, mengatakan kalau dia tidak bisa ke kfc, dan dia sedang berada di nanonine (gua tau emang babi banget) gue udah beteeeeeeeeee sekali ya, nah pas gue lagi marah-marah, ada tukang minta-minta yang gak tau kalo waktunya sedang sangatlah tidak tepat untuk meminta-minta. akhirnya, kita semua ke nanonine, dan karena sangat bete, gue membanting hape gue, dan teman-teman gue langsung nganga. akhirnya si Phl telp si Y, dan dia pergi sendiri ke nanonine sementara gue dan yang lain pergi ke blenger. terus akhirnya, gue bilang kayak gini sama Andhini. "Dhin, gue mau kesana deh. gue mau liat mukanya itu cowok yang babi banget." Andhini menjawab, "Yaudah kesana aja, pasang muka nyolot." Akhirnya gue kesana, dan jeng-jeng, si Y belum ada juga. GUE BETE SEKALI, dan akhirnya kita semua nunggu didepan nanonine. beberapa menit kemudian, datanglah si Y, gue gak nyapa dia sama sekali, dan setelah itu gue melihat di belakangnya diaaaa dan ternyataaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......................................................... seorang pria kurus, tinggi, rambut keribo pirang, berinisial AP, sedang duduk bersama temannya yang berinisial B. Gue yang langsung shy-shy cat -_____- TAPI SENENG ABIS KETEMU GITCHUUUUUUUU
Terus gue ngomong gini sama Y, "Y, itu AP ya?"
"Iya, kenapa?"
"Bisa minta tolong panggilin gak Y?"
"(memanggil nama panggilan AP yang sayang sekali tidak bisa gue bicarakan)" HAHAHAHAHA LU HARUS LIAT GAYA MANGGILNYA YA ITU HIIIII NAJIIIIIIIIIIIIIIIIIS
jeng-jeng terus gue udah gemeteran, dan si Y, nyamperin si AP, dan lalu gue berkata seperti ini kepada Andhini, "Dhin, gue samperin aja apa ya?"
"Jangan Nash, banyak temennya."
Tapi, karena urat malu gue udah putus, gue samperinlah si AP.
"Lo (nama panggilannya AP) ya?",tanya gue.
"Iya, lo Nasiha ya?"
"Iya hehe hai."
"Hai."
YA AMPUUUUUUUUUUUUUUUN GUE GEMETERAN YANG PARAH ABISSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS DAN AKHIRNYA SI AP MELIRIK SEPATI GUE YANG ADA GAMBAR MUKA DIANYA YA LO HARUS TAU YA DIA ITU LANGSUNGLAH NYENGIR
Karena gue bener-bener malu, akhirnya gue balik badan dan meninggalkan si AP. huahua -_____-
lalu, si AP pergi karena dia ingin les. laluuuuuuuuuu, gue sms lah dia.
"(nyebut namanya), maaf ya tadi gue malu hehehe tapi gue pengen ketemu elu deh hehe" (Ini Andhini yang nulis, bukan gua, gua sama sekali tidak tahu.)
lalu, sang AP membalas, "Hahahaha...gpp. tapi gue lg les sih"
WAAAAAAAAA NYESEL BANGET TADI GAK BERBINCANG-BINCANG
TAPI YA AKHIRNYA SI AP KELUAR SAMBIL BERLARI MEMEGANG HANDPHONENYAAAAAAAA WA SYU SYU
terus gue ketemu lagi deh, terus suma cengir-cengiran aje terus katanya Andhini, "salaman lah." eh akhirnya gue salaman deh ya sama si AP cie guaaa wasyusyu asyik abis. tadinya mau nungguin dia pulang les, tapi karena emak gua sangatlah ck, jadi gak bisa deeeeeeeeh tapi asik abis ketemu AP :) we'll meet again, soon, okay?

p.s: AP itu adalah gebetan gue dari kelas 8, yang sangatlah gue cintai (halah) dan gue mutusin cowok gue cuma gara-gara dia. he's the one-lah pokoknya, walaupun out of reach banget -___________-

Bab 1: Awal Yang Buruk

Aku menguap di sofaku yang panjang. Kotor, tetapi cukup nyaman. Aku sudah berjanji kepada Mom kalau aku akan menemaninya menonton telenovela kesukaannya. Jujur saja, aku sudah mengantuk, dan besok aku sekolah.
“Dre? Andrea!” Suara Mom membangunkanku dari dunia tidurku yang baru saja akan dimulai.
“Ya, Mom? Aku masih disini menemanimu.”,jawabku malas.
“Kurasa kau harus tidur, Dre. Kau besok sekolah.”
“Ya, tapi aku belum mengantuk.” Seratus persen kebohongan belaka. “Lagipula, aku sudah berjanji kepadamu.”
Malam itu, yang kuingat hanya jam wekerku menunjukkan pukul tiga pagi, dan aku merangkak ke tempat tidur dengan setengah sadar.

“Andrea? Andrea? Alexandra Garolen!”,teriak Mom . Aku yakin benar ia sedang berada di lantai bawah, tetapi suaranya terdengar sangat jelas dan melengking dari kamarku yang berada di lantai dua.
“Andrea, kau harus bangun! Sekolah!”
Sekolah! Sial, sudah jam berapa ini? Enam empat puluh dua? Aku mati hari ini. Aku berlari ke kamar mandi, dan menyikat gigiku asal-asalan. Aku memakai pakaianku, dan dengan langkah berat, aku berlari menuruni tangga, dan mengambil sepotong roti panggang, dan mencium pipi Mom .
“Hati-hati, Andrea.” Kata-kata Mom terdengar samar, tetapi aku mencoba mendengarkan.
Aku berlari ke pemberhentian bis, dan aku bersyukur tidak lama kemudian, bis datang. Aku segera naik, walaupun bis itu penuh sekali. Pria-pria berjas yang akan pergi ke kantor, anak-anak sekolah seperti diriku, bahkan seorang nenek-nenek yang membawa makanan burung di pangkuannya.
Tiba-tiba, aku merasakan kalau bahu kananku terkena cairan hangat. Oh tolonglah, ini bukan urin ‘kan? Ketika aku menoleh, seorang Mom tersenyum bersalah kepadaku, dan ia sedang menggendong anak kecil.
“Oh, maafkan anak saya, Nona.”,kata Mom itu. Sekarang aku tahu mengapa dia tersenyum bersalah.
“Oh ya, tidak apa-apa.”
Aku mengeluarkan tisu basah dari tasku, dan berusaha membersihkan noda berwarna cokelat itu. Akhirnya tidak lama kemudian bis sampai di tempat pemberhentianku. Aku berlari ke gerbang sekolah, dan ketika aku menginjakkan langkah pertamaku ke sekolah, bel berbunyi. Terima kasih sudah menunggu.
Kelasku ramai dan berisik. Anak-anak melempar-lempar bola kertas yang sudah dibasahi ludah. Kalau sampai ada yang mengenaiku… Plok! Satu bola kertas mendarat sempurna di atas kepalaku.
“Siapa yang melemparnya?”,tanyaku marah, tetapi masih datar.
“Tammi. Tammi yang melakukannya, Andrea.”,kata Jimmy.
“Jimmy! Bukan, Bukan aku, Andrea. Tetapi Andy. Ya, Andy yang melakukannya.”,kata Tammi.
Aku sudah tahu cerita ini. Mereka akan mengoper-oper kesalahan, dan akhirnya tidak akan ada yang mengaku. Aku berjalan keluar kelas dan membanting pintu. Kalau aku sedang merasa kesal seperti ini, biasanya aku akan ke kamar mandi, memasang headset, lalu menyetel musik sampai ke volume yang paling keras. Tapi kali ini sepertinya tidak bisa.
“Andrea!”, teriak dua orang bersamaan. Aku tahu mereka dengan pasti. Marisa, dan Jillian. Aku menoleh, dan mendapati bahwa pendapatku ternyata benar.
“Yep?”,jawabku pendek.
“Kau tidak masuk kelas?”,tanya Marisa.
“Aku akan ke kamar mandi sebentar. Kalian berdua juga tidak masuk ke kelas?”
“Mr. Auburn menyuruh kami mengambil buku di ruang guru. Bagaimana nilai-nilai ulanganmu?”,kata Jillian.
“Matematikaku seperti biasa. Jelek. Kalau ilmu sosial, masih bisa ditolerir.”
Marisa dan Jillian tertawa, akupun mengikuti mereka.
Marisa adalah temanku sejak kelas satu di SMA, dan kami sudah berteman kira-kira selama satu tahun. Sedangkan Jillian, dia teman baik Marisa, jadi, akupun ikut dekat dengannya. Marisa tipe orang yang selalu mengikuti perkembangan jaman. Pakaiannya mengikuti zaman, tasnya, antingnya, dan handphone-nya, mengikuti zaman. Jillian, ia adalah tipikal orang yang pendiam, dan bukan tipe orang yang bisa menjadi pemimpin. Ia hanya suka mengikuti orang yang ia anggap benar.
“Jadi, kau kemana hari Sabtu ini, Andrea?”,tanya Marisa.
“Um, kurasa Mom akan mengajakku ke toko swalayan. Jadwal belanja yang harus kupenuhi setiap bulan. Kau?” Aku menanyakan kemana Marisa akan pergi hari Sabtu nanti, karena aku yakin seratus persen, itulah yang diinginkannya. Itulah motif tersembunyi dibalik pertanyaan yang dia ajukan kepadaku.
“Aku akan ke pantai! Bisakah kalian bayangkan itu? Ayahku telah menyewa hotel yang langsung menghadap ke pantai. Dia bilang, supaya kami bisa melihat matahari tenggelam disana. Keren sekali, Momkan?”
“Oh.”
“Kau mau ikut, Andrea?”
“Oh tidak, tidak, Marisa. Kau tahu aku harus berbelanja.” Karena itulah kau mengajakku, karena kau tahu aku pasti menolak.
“Uh, sayang sekali. Bagaimana denganmu, Jill?”
“Maaf, sakit perut mingguan.” Jill menepuk-nepuk perutnya. Aku tidak tahu kalau Jill mempunyai sakit perut mingguan.
Tanpa sadar, ternyata aku telah melewati pintu kamar mandi. Daripada aku harus berjalan ke ujung lorong sambil mendengarkan celotehan Marisa, lebih baik aku mengakui kebodohanku, dan berjalan kembali. Aku bisa melihat mimik muka Jill mengkerut ketika tahu aku akan pergi.
“Maafkan aku, Jill. Mr. Brown bukan guru yang sabar.”,bisikku, lalu setengah berlari, aku kembali menuju kelasku.
Mr. Brown sudah duduk disana. Ia menyentak-nyentakkan kakinya ke lantai.
“Maafkan aku, Mr. Brown, sakit perut harian.” Aku menyontek alasan Jill, dan duduk di kursiku.
Dengan malas aku mendengarkan ocehan Mr. Brown. Aku mengantuk, apalagi tadi malam Mom memintaku menemaninya menonton telenovela. Aku menguap beberapa kali, sampai-sampai Tammi menoleh kepadaku.
“Belum pernah melihat orang menguap, ya? Aku mengantuk, tahu. Kalau mengantuk aku biasanya memakan manusia.”,kataku iseng.
Tammi bergidik, lalu langsung menoleh kedepan, ke Mr. Brown. Aku tertawa sedikit, dan berusaha agar Mr. Brown tidak melihatku.
“Bapak mau hari Jumat, kalian membawa buku kumpulan puisi, lalu kalian pilih satu puisi, dan bacakan puisi itu di depan kelas.”,kata Mr. Brown.
Buku kumpulan puisi? Aku tidak punya buku itu dirumah. Terpaksa pulang sekolah nanti aku harus ke toko buku. Terpaksa pulang sekolah nanti aku tidak bisa langsung pulang dan tidur.
Hari ini hari berjalan dengan lumayan cepat, dan tanpa terasa, sudah pelajaran Mrs. Finn, pelajarn terakhir. Beberapa saat kemudian, bel berbunyi, dan aku langsung pergi meninggalkan kelas, walaupun aku tahu Marisa ada dibelakangku.
“Kau langsung pulang, Andrea?”,tanya Marisa.
“Ya, aku lelah, Marisa. Ada apa?”
“Mau kuantar? Ayahku baru saja membelikanku sedan keluaran Honda yang terbaru. Kau harus mencobanya. AC-nya dingin sekali.”
“Marisa, aku minta maaf sekali. Aku lupa kalau aku harus pergi ke toko buku. Mr. brown memintaku membawa buku kumpulan puisi. Maaf sekali.”
“Well, aku bisa mengantarmu ke toko buku. Jaraknya lebih dekat.”
“Tidak usah, tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu. Oke, kalau begitu, sampai jumpa besok.” Aku langsung pergi meninggalkannya, dan berjalan cepat ke toko buku. Jarak toko buku dari sekolahku cukup dekat, jadi aku tidak perlu naik bus.
Ruas jalan yang harus kulalui untuk mencapai toko buku memang selalu sepi, tetapi tidak pernah sesepi ini. Bisa kulihat, mungkin hanya aku yang sedang berjalan di daerah ini. Aku agak khawatir, tetapi, mau apa lagi? Aku berjalan cepat, dan langsung membuka pintu toko buku. Aku memang kaget kalau ruas jalan diluar sepi, tetapi untuk urusan sepinya toko buku, aku tidak kaget.
Aku mencari-cari di rak, dan tanpa memakan waktu lama, aku menemukan buku itu. Kumpulan puisi. Di sampulnya ada tulisan-tulisan nama-nama orang yang tidak kuketahui, tetapi aku yakin kalau itu adalah nama pengarang puisi yang puisinya ada didalam buku itu. Aku berjalan ke kasir, tetapi tidak menemukan satu orang-pun. Di meja kasir, ada tulisan.
SILAHKAN PENCET BEL DISAMPING JIKA TIDAK ADA
KASIR YANG MELAYANI ANDA, TERIMA KASIH.
Seperti apa yang tertulis di tulisan itu, aku memencet bel, dan tidak lama kemudian keluar seorang kakek tua dari ruangan yang ditutupi tirai. Ia lalu mengambil buku yang kuserahkan, dan mengetik nomor barcode buku itu di keyboard komputernya.
“Dua puluh dolar.”,katanya lemas.
Aku menyerahkan dua lembar uang sepuluh dolaran, lalu menerima bungkusan plastik yang diberikan oleh kakek itu.
“Terima kasih, datang lagi.” Lalu ia kembali ke ruangan dibalik tirai itu.
“Sama-sama.”,gumamku, lalu pergi.
Aku membuka pintu, dan menemukan jalan sama seperti ketika aku datang. Sepi sama sekali, hanya ada aku. Aku berjalan dengan cepat, dan tanpa melihat kedepan. Hari lumayan dingin, tetapi untungnya aku mengenakan jaket cukup tebal.
Aku berjalan menuju perempatan, dan tiba-tiba, sesuatu terjadi dengan cepat sekali. Dua mobil sedan, dua-duanya hitam, sama-sama mengkilap, tetapi salah satu dari kedua mobil itu lebih bagus. Kedua mobil itu sedang berjalan dengan kecepatan tinggi, dan yang kutahu, mereka kejar-kejaran. Mobil yang bagus sekali mengejar mobil yang bagus. Dan tepat di depanku, kedua mobil itu berhenti. Apapun yang terjadi, yang kutahu pasti adalah kalau supir mobil bagus membanting setir ke kiri. Akupun langsung jatuh tersungkur ke ujung jalan, dan punggungku membentur tembok.
Seorang pria, wajahnya bersih putih, berambut pirang, keluar dari mobil yang bagus sekali sambil membawa senapan besar. Aku tidak tahu apakah ia memang menutup pintu dengan keras, atau aku hanya mendramatisir, ketika pria bermabut panjang itu menutup pintu mobil, suara berdebum yang keras, hampir mencopot jantungku.
Pria itu berjalan mendekati mobil sedan yang bagus, dan menembaki mobil itu. Menembakinya. Suara tembakan yang keras sekali terdengar oleh telingaku. Yang bisa kulakukan hanyalah menutup telingaku sambil menangis terisak.
Aku merasa kalau lama sekali pria itu menembaki mobil sedan itu. Tetapi beberapa saat kemudian, dia berhenti, dan kembali ke dalam mobil yang bagus sekali, dan menutup pintu mobil.
Apakah sudah selesai? Apakah baku tembak ini sudah selesai? Ternyata tidak, seorang malaikat, malaikat? Seorang pria, pemuda, yang sangat tampan, keluar dari mobil yang bagus sekali. Langkahnya ringan, dan rambutnya terkena terpaan angin. Bahkan disaat seperti ini-pun, aku masih bisa terpesona oleh keberadaannya.
Pemuda itu mendekati mobil bagus yang sekarang sudah jelek sekali, bolong-bolong, dan membuka pintu belakangnya. Ia memasukkan badannya setengah ke mobil itu, lalu keluar dengan menyeret seorang lelaki yang sudah tua. Tunggu dulu, aku tahu siapa pria itu. Apakah dia Angelino? Angelino Le’Cronzes? Pemuda itu mendudukkan Angelino Le’Cronzes di trotoar di seberangku.
Bisa kulihat, Angelino Le’Cronzes seperti memohon-mohon kepada pemuda itu. Memohon-mohon apa? Agar ia tidak membunuhnya? Pemuda itu lalu mengangguk sekali, dengan lembut, dan meninggalkan Angelino.
Dan kejadian yang kulihat menyeramkan sekali. Angelino Le’Cronzes mengambil pistol dari saku dalam jasnya, dan berniat menembak pemuda itu. Tetapi dengan sigap, pemuda berambut panjang, yang berada di dalam mobil, langsung keluar dari mobil.
“Jino!”,teriaknya, lalu dengan sekali suara tembakan, Angelino Le’Cronzes tertembak di bagian dahinya.
Aku teriak, teriak kencang sekali. Aku rasa itu adalah hal yang wajar. Malahan aku mungkin bukan orang yang wajar, ketika aku hanya menutup mulutku saat pria berambut panjang itu menembaki mobil Angelino Le’Cronzes. Tetapi seperti orang wajar lainnya, aku langsung menutup mulutku.
Pria yang berambut panjang langsung mendekatiku, tetapi dengan sigap, pemuda yang tampan, yang bernama Jino, menghalanginya. Mereka sempat berargumentasi, sepertinya, lalu pemuda tampan itu mendekatiku. Aku langsung mundur, dan siap-siap menyemprotnya dengan semprotan mericaku.
“Kuharap kau tahu membalas budi,”,katanya, lalu pergi meninggalkanku begitu saja dengan mayat Angelino Le’Cronzes, beserta bangkai mobilnya.
Aku terdiam, syok setengah mati. Aku sesak napas. Aku punya penyakit asma. Tetapi aku sadar kalau aku tidak bisa berlama-lama berada di sini, karena pasti sebentar lagi polisi akan datang. Aku berlari, berlari cepat sekali, tidak melihat kebelakang, dan hanya ingin pulang.
Ketika akhirnya aku bisa melihat rumahku, aku langsung berlari lebih cepat, dan membuka pintu tanpa berpikir apapun.
“Andrea? Andrea! Ada apa?”,tanya Mom . Dari nada suaranya, aku tahu dia sangat khawatir.
Aku tidak menghiraukan Mom, dan segera menaiki tangga menuju kamarku. Aku menangis berjam-jam, sampai akhirnya disekitarku gelap. Aku tertidur.

“Andrea? Aku membawakanmu makan malam.”
Mom mengusap-usap dahiku. Aku langsung membuka mataku yang sembab, dan bangkit dari tempat tidur.
“Kau tidak keluar sejak tadi siang. Dan ketika aku memanggilmu untuk makan malam, kau tidak menjawab.”
“Maaf, Mom. Aku tertidur.”, jawabku. Suaraku gemetar, perutku mual, dan kepalaku pusing. Aku segera mengambil piring yang berada di tangan Mom, lalu mulai menyendok kentang tumbuknya.
“Ada apa, Andrea?”
“Tidak ada apa-apa, Mom.”
“Kau adalah anakku. Kau sudah hidup bersamaku selama lebih dari enam belas tahun. Sekarang, katakan kepadaku, apa yang terjadi.”
“Baiklah. Aku mengikuti seleksi cheerleader, dan aku tidak masuk.” Aku tahu ini adalah alasan yang bodoh, tetapi aku tidak bisa memikirkan alasan bohong lain yang lebih bagus.
“Kau? Mengikuti seleksi cheerleader?” Mom mengerutkan dahinya.
“Ya. Lalu? aku tidak menyukai cheerleader bodoh itu. Aku hanya ingin menguji diriku, apakah aku lebih baik dari gadis-gadis bermabut pirang itu, atau tidak. Hanya karena warna rambutku seperti merah darah, bukan berarti mereka bisa merendahkanku.”
“Tetapi, kau pernah mengikuti kelas karate sewaktu di SMP. Aku yakin kau masih menguasai satu atau dua gerakan gimnastik, bukan?”
“Ya, Mom, tetapi kapten cheerleader itu sudah mengenaliku. Sebelum aku memperlihatkan kemampuanku, aku sudah diusir dari gimnasium.”
Mom berdecak, lalu mengusap rambutku.
“Kalau kau tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya, tidak apa-apa, Andrea.”,kata Mom, lalu keluar dari kamarku.
Aku menghela napas lelah, lalu mulai menyendok lagi. Aku tahu merupakan hal bodoh membohongi Mom yang sudah sangat mengenal diriku, tetapi tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin aku mengatakan kepadanya kalau aku menjadi saksi adu tembak yang sangat-sangat brutal. Mom bisa mati sakit jantung bila mendengarnya.
Tapi, tidak apalah. Aku harus menyembunyikan maslaah ini selama mungkin.
Mungkin, karena Mom tahu rencanaku, ia tidak pernah menanyakan hal tentang kemarin lagi pagi ini.
Mom meletakkan koran pagi ini di hadapanku. Aku bisa melihat dengan jelas judul artikel terdepan koran itu.
MAFIA BADINE TELAH KEMBALI,
ANGELINO LE’CRONZES TEWAS DALAM BAKU TEMBAK
“Keluarga mafia Badine?”,tanyaku dengan suara melengking.
Ibuku langsung berbalik dari pancinya, dan menatap kearahku.
“Ya, Badine. Kenapa, Andrea? Sebenarnya aku sudah tahu kalau cepat atau lambat keluarga Badine akan kembali menguasai jalanan.”
“Jadi, kemarin, yang dihadapanku itu adalah para Badine?”,gumamku pelan.
“Maaf?”,kata ibuku.
“Eng, tidak, apakah menurut Mom pancakenya tidak lebih asin?”
“Benarkah?”
Mom menyendok pancakenya, dan menatap aneh kearahku.
“Kurasa tidak, Andrea. Mungkin ada yang salah dengan lidahmu.”
“Oh ya, mungkin.”
Aku mengambil tasku, dan mengecup pipi Mom.
“Dah, aku berangkat, Mom.”
“Hati-hati di jalan, Andrea. Jangan sampai tertangkap oleh para Badine.”,kata ibuku.
Aku bisa merasakan kalau semua darahku naik ke kepala, dan kepalaku langsung pusing. Aku mual.
“Andrea? Ayolah, aku cuma bercanda.”
“Heh oh ya tentu saja bercanda.”
Aku melangkah pergi, tetapi mualku belum juga hilang.
Ketika aku baru sampai di sekolah, Marisa langsung berjalan kearahku, walaupun aku sudah berusaha menghindar. Apakah Ayahnya memberikannya kontak lens yang khusus untuk menemukan orang yang dia cari?
“Hei, Andrea!”,katanya sambil menepuk pundakku. “Kau sudah baca koran hari ini?”
Tentu saja sudah, yang artikel utamanya tentang baku tembak yang hampir membunuhku itu, ‘kan?
“Belum, aku kesiangan hari ini, jadi buru-buru. Memang ada apa?”,jawabku malas.
“Keluarga Badine kembali, Andrea. Kemarin mereka terlibat baku tembak dengan keluarga Le’Cronzes. Dan kau tahu? Bagian terbaiknya adalah mereka mengambil anggota baru!”
Anggota baru? Kukira mereka keluarga, bukan suatu perkumpulan.
“Maksudmu, salah satu dari mereka ada yang melahirkan?”
“Ya ampun, Andrea! Tolonglah. Jadi begini, sewaktu Michael dan Anthony Badine dipenjara, Andrew dan Cecil Badine, pergi ke Barcelona, Spanyol, mereka mengadopsi seorang anak, seorang laki-laki, seumur dengan kita!”
Jangan katakan kepadaku kalau pemuda itu adalah Jino.
“Oh ya?”,kataku sok tertarik. “Siapa namanya?”
“Jino.”
“Apa?”
“Ya, Jino. Jino Badine.”
“Jino?”
“Iya, Alexandra. Kudengar Andrew dan Cecil melihat Jino di Barcelona, menjadi pemetik lavender.”
“Pemetik lavender tidak jelek.”
“Tetapi lebih bagus menjadi mafia.”
“Jadi, Jino diadopsi saja, begitu?”
“Kudengar sih, belum secara resmi, tetapi Andrew telah membayar sebanyak seribu dolar kepada pemilik kebun lavender itu.”
“Wow, seribu dolar.”
“Iya, mereka kaya sekali, bukan? Apalagi Jino. Jino Badine itu. Dia tampan sekali, Andrea. Aku melihatnya di koran.”
Di koran? Aku pernah melihatnya langsung. Dia lebih tampan jika dilihat langsung daripada dilihat di koran.
“Ya, aku percaya. Dimana Jillian?”
“Aku tidak tahu, tapi itu dia.”
Jillian mendekatiku dan Marisa dengan wajah datarnya, dan tubuh bungkuk. Sepertinya tas backpacknya berat sekali.
“Selamat pagi, Andrea, Marisa.”,sapanya ketika melihat aku dan Marisa.
“Ya, pagi.”,jawab Marisa.
“Pagi, Jillian. Backpackmu sepertinya berat sekali.”,kataku.
“Iya, Mr. Jacob harus membayarnya.” Jillian tertawa.
“Kau mengambil mata pelajaran Mr. Jacob? Dia ‘kan genit, Jill.”,kata Marisa.
“Yang penting, dia ‘kan tidak genit kepadaku, Marisa.”
“Well, dia genit kepadaku.”
Aku mengerucutkan bibir, dan memandang Jillian. Dia tertawa sedikit, tetapi ditahan.
“Oh, sekarang aku tahu bagaimana selera Mr. Jacob kalau begitu.”,kata Jill.
“Apa maksudmu, Jill?”,kata Marisa, sepertinya ia marah.
“Maksudku, dia hanya mengincar wanita cantik sepertimu. Untung saja, aku tidak cantik, jadi dia tidak akan genit kepadaku.”
Tertawaku mau meledak, tetapi aku hanya batuk kecil, dan Marisa langsung menatap galak kepadaku.
“Oh, kalau begitu, baguslah. Sampai jumpa saat makan siang.”,kata Marisa, lalu berjalan pergi.
Aku dan Jill langsung tertawa, dan akhirnya kami berpisah. Jill ke lantai dua, sedangkan aku berjalan menuju kelas Mrs. Green.
Di kelas, anak-anak terus membicarakan tentang kembalinya mafia Badine. Apalagi Jino. Mereka selalu mengatakan kata ‘Jino’ sesudah kata ‘adopsi’ atau ‘mengambil’, kurasa seharusnya ada kata yang lebih baik daripada itu.
Anastasia, temanku di kelas Mrs. Green, mengatakan sesuatu kepadaku yang tidak akan pernah kulupakan.
“Andrew Badine sudah menjadi mafia besar ketika ayahku masih muda.”,katanya. “Ayahku mengatakan kepadaku, kalau mafia sudah memegang kendali, akan menjadi awal yang buruk, bagi apapun.”
Aku menelan ludah. Tetapi, ketika mengingat kea=jadian kemarin siang yang hampir membunuhku, kurasa ayah Anastasia benar.

Friday, November 7, 2008

Revolver first cover

waaaaaaa seneng banget temen2 banyak yang udah selesai baca Revolver, dan minta bab keduanya. makasih yaaaaaa, buat yang udah mau baca. dan, ini dia first cover of Revolver. yang udah baca mungkin tau, tapi buat yang belum baca, jadi bisa tau juga. yegak?

Tuesday, October 21, 2008

Taglines

hey, help me a little, okay? hel me choose my novel tagline!
1. join the dangerous for your own safe
2. finally, the past have meet it's future
3. trust the mafia, or trust the truth?
4. leave the past
5. sometimes the past it's equal with the future
help me, okay?

Wednesday, October 8, 2008

my novel publish

hey, there's some good news, you can read my novel, Revolver, on Monday. actually, you can read it on friday, but i'm too lazy to go to school. haha sorry everyone!

Monday, October 6, 2008

Official Synopsis

Alexandra 'Andrea' Garolen adalah seorang siswi SMU yang hidupnya membosankan di kota Jenkintown. Hidupnya berubah ketika ia menjadi saksi kunci baku tembak antara dua keluarga mafia paling berbahaya di AS, Badine dan Le'Cronzes. Kejadian baku tembak itu membuatnya menjadi target nomor satu keluarga Le'Cronzes, tetapi di sisi lain membuatnya jatuh cinta kepada Jino Badine. Andrea mencintai Jino dengan segenap hatinya, dan rela mati untuknya. Tetapi apakah Jino juga merasakan hal yang sama, saat dia mempunyai kekasih di masa lalu yang belum bisa dia lupakan?

Sunday, October 5, 2008

First Chapter Launching!

bab pertama Revolver udah dikeluariiiiiiiiiiin! cuma orang-orang terdeket aja sih yg dikasih tau, tapi kalo mau baca, you know what to do kan? add me on your msn, crepusculenasiha@hotmail.com. Judulnya awal yang buruk, diikuti bab dua yg judulnya racun. Bab tiga, penawaran, lg ditulis. Jalan ceritanya agak berubah, tapi intinya tetep sama kok. Di revolver ini bintang utamanya masih Andrea Garolen sama Jino Badine, sama ada pemain baru, Dawn Elegna, mantan pacarnya Jino. Miliki segera ya bab pertama Revolver -_-

Thursday, October 2, 2008

Revolver II

bingung cari tempat buat tempat tinggal Andrea. Di Philadelphia, banyak sih perumahan tempat tinggalnya, tapi itu perumahan mewah gitu, tapi ceritanya Andrea ini kan miskin kayak gue gitchu -,- tapi akhirnya ada sih Jenkin Town, sama Allentown. Kalo dari namanya sih lebih ear catching Jenkin Town, ya kan? Cuma gak tau nama jalannyaaaaaaaa -.- doain ya supaya gue dapet agen yg mau nyebarin Revolver! thankyou! got a question? add crepusculenasiha@hotmail.com

Tuesday, September 30, 2008

Revolver

hey wats ap gue ada novel baruuuu judulnyaaa Revolver. Ceritanya di Philadelphia. Seorang cewek bernama Alexandra Garolen, jadi saksi baku tembak antara keluarg mafia paling bahaya di US, Badine, sama Le'Cronzes. Yah pokoknya sejak itu, Alexandra atau Andrea ini, jadi terlibat petualangan membahayakan -_- sama keluarga Badine ini. Bagian favoritnya sih ada si Jino Badine yg ganteng, tapi kayaknya gue prefer Revolver dulu deh daripada The Bataille Aegis. Yang mau baca tolong bilang aja ke gue yaaa! Sekuel Revolver, Bullet Embrace, nanti baru gue buat akhir tahun ini huhehe yang mau baca tolong contact: crepusculenasiha@hotmail.com thankyou ya semuanyaaa!

Saturday, August 16, 2008

duit where are you

Yaolooh hidup di jakarta emang deh ya amfyun gak punya duit mulu gua mana mau beli breaking dawn duit baru goceng -_- mau ditambahin si sama kakak gua tapi cuma ceban. Itu pula setelah melewati perjuangan berat. Tapi emang pulsa nih bikin bokek, gua beli pulsa hampir setiap hari ck mana di deket rumah gua banyak mas-mas ganjen ih ih minta dilempar sendal -.- eh udah dulu ye gua mau tidur dulu yaaaaa deeeee

Tujuh belasan

Wey tujuh belas agustus men oh may gaaawt -_- ayo ayo lomba lomba gua gak ikut lomba ya gitu loh soalnya gua gak doyan kerupuk, takut sama belut, sama gak bisa lari karung tapi gua ikut memeriahkan ya gitu loh gua pake blush on sebelah merah sebelah putih keren kaaan gua gitu looh (ini mah gila kutil, bukan keren ZZ)

Wednesday, July 30, 2008

Publishan

Maaf ya novelnya gak dilanjutin lagi karena alasan tertentu. Tapi kalo mau baca, bilang gue aja ya, dan add msn gue, crepusculenasiha@hot. The Bataille Aegis: Afellery, Interlude udah selesai, dan sekuelnya baru mau gue buat hehe sedikit bocoran, judulnya The Bataille Aegis: Two Sides, One War. Hehehe yang mau baca bilang gue aja yaa, gue mohon banget bantuannya buat ngebantu nyebarin novel gueee. Diluar The Bataille Aegis Saga, ada banyak novel gue yg lain: Obsess: Journey To Death, Three Ages, sama Isabelly Badron: Share Your Stories. KALO MAU BACA BILAANG AJA YA THAAANKS BANGEET

Tuesday, July 8, 2008

The Bataille Aegis: Afellery, Interlude. Bab 1: Penelitian Un-Nrml, part 3

Lord Eviliam sedang duduk di sebuah bangku taman saat Lord Ambush menemuinya. Di sampingnya, terdapat lampu taman yang terlihat tua. Sambil berjalan santai dan melihat-lihat, Lord Ambush berjalan menuju Lord Eviliam yang belum menyadari akan kedatangannya.
“Sudah lama, Hatent?”
“Oh, kau, Ambush? Untung saja, aku benar membatalkan pertemuan dengan Bells Tralin. Ternyata, ada untungnya juga. Kau datang? Jadi, kau setuju bahwa kita akan membangun lagi penelitian ini?”
“Yah, aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan kepadaku, tapi kau selalu membuatku percaya akan kebohonganmu, Hatent”
“Bukan aku yang melakukannya, tapi, kau sendiri. Itu karena nalurimu ingin kaya, Ambush”
“Siapa yang tidak ingin kaya di dunia ini?”
“Tapi, kurasa, tidak ada yang begitu ambisius, seperti kita”
“Oh, ayolah, jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Sabarlah, Ambush. Sudah tidak sabar ingin mencium aroma kekayaan yang dikeluarkan uang?”
“Hatent, terserah kau. Oh ya, sebelum itu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Menurutku, semua ini agak tidak masuk akal. Selama puluhan tahun, kita telah mencari keberadaan Un-Nrml, tapi tidak ketemu. Jadi, selama puluhan tahun, kita tidak mengetahui bahwa Aublace adalah wilayah Un-Nrml?”
“Tentu saja, kita tidak pernah mengetahuinya, karena para warga Aublace yang mempunyai kekuatan super, mentransfernya ke dalam benda. Jadi, tanpa benda itu, mereka hanya orang biasa, Ambush. Mengerti sekarang?”
Lord Ambush mengangguk, lalu ia sadar, ia amat puas dengan keputusan yang telah ia buat itu.
“Lalu, sekarang?”
“Aku akan katakan kepada Amroe, agar ia mencabut penutupan Un-Nrml Centrè”
“Amroe? Michael Amroe? Kau percaya dia? Dia pengkhianat!”
“Kita tidak bisa melakukan apa-apa, Ambush! Hanya dia yang berwenang dalam hal ini, kita tidak mungkin membangun sebuah Centrè lagi”
“Kau yakin ia ingin membantu kita? Setelah kita hampir membunuh keluarganya karena pengkhianatannya itu? Aku tidak yakin.”
“Jika ia tidak ingin hal itu benar-benar terjadi, ia harus membantu kita. Ia mungkin masih bodoh sekarang. Rambut berantakan, gigi tonggos, hmm, memalukan sekali.”
“Kalau tidak? Kudengar ia bekerja di Departemen Hal-hal Gaib, dan gajinya besar sekarang. Mungkin ia sudah kaya, dan berpendidikan sekarang, Hatent. Dan keluarganya berada di luar Tardust.”
“Seberapa besar gaji yang diterima seorang pegawai Departemen Hal-hal Gaib? Lagipula, departemen itu berada di bawah pengawasan Coldan Hall, dan pemimpin Coldan Hall? Aku. Jadi lebih baik kau diam saja. Pasti ia takut kepada seorang Tralin, iya bukan?”
“Ya, mudah-mudahan saja hal itu benar. Besok kau tidak akan ke departemen itu? Siapa yang akan kesana?”
“Tentu saja kau yang harus kesana. Aku ada urusan penting, besok. Aku harus bertemu seseorang, yang memberikan kita segala informasi.”
“Siapa? Wanita itu? Sang kepala sekolah Interlude?”
“Ya, siapa lagi?”
“Sebaiknya kau mengawasinya, Hatent. Seperti ia naik apa kesini. Ia datang dari Aublace ke Tardust dengan mudah sekali, tanpa hambatan dan waktu.”
“Sudahlah, kau harus siap menerima keadaan apapun, Ambush. Ah, tak terasa, hari sudah siang. Kau ingin minum kopi, Ambush? Aku tahu tempat yang menyajikan kopi terbaik. Letaknya tidak jauh dari taman ini. Bagaimana?”
“Ya, kurasa itu ide yang bagus. Kita kesana menggunakan Pockn masing-masing?”
“Tidak, kita akan berjalan kaki. Tidak melelahkan, ayo ikuti aku.”
Lord Eviliam bangkit, lalu diikuti Lord Ambush. Mereka berdua memutari taman menuju sebuah restoran kecil berwarna oranye gelap. Pintunya terbuat dari kaca yang dibingkai oleh kayu. Ketika keduanya masuk, bel berbunyi, dan semua orang di restoran itu terdiam melihat kedua pria terhormat itu.
Lord Eviliam memandang sekeliling, lalu melihat satu meja, dengan dua bangku kosong. Lalu ia duduk disana, bersama Lord Ambush. Seorang pria yang duduk di sebelah mereka, bangkit dari duduknya, lalu pergi dari restoran itu sehabis membayar makanannya dengan terburu-buru dam takut. Sama takutnya seperti pria itu, seorang pelayan mendekati Lord Eviliam dan Lord Ambush. Tangan kanannya memegang kertas putih bertumpuk dengan yang lain, dan tangan kirinya memegang sebuah pulpen hitam.
“Permisi, Lord. Apakah Anda berdua ingin memesan sesuatu?”,kata pelayan itu sambil menunduk, tidak menatap keduanya.
“Hmm, aku ingin memesan satu cappucinno. Kalau kau, Ambush?”
“Black coffee, itu saja”
“Oke, tolong satu cappucinno, dan black coffee”
“Oh, oke, satu cappucinno, dan black coffee. Itu saja, ya. Baik, segera kami antarkan”,kata pelayan itu, sambil berbalik menuju dapur.
“Huh, pelayanan yang buruk sekali. Apa nama restoran ini?”, gerutu Lord Eviliam.
“Kau sering kesini? Kau? Ke tempat ini? Itu sama sekali bukan dirimu, ke tempat sempit seperti ini.”
“Pertama kali, aku kesini diajak oleh seorang menteri miskin, tadinya aku amat tidak menyukainya. Sempit sekali kelihatannya. Tapi setelah kucoba kopi buatannya, lumayan enak ternyata”
Mereka berdua tidak cukup bodoh untuk membicarakn tentang penelitian Un-Nrml disini. Restoran itu dipenuhi warga-warga sipil Tardust, dan beberapa nenek-nenek yang sedang mengobrol dengan seumurnya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan tentang penelitian itu, akan ada saatnya dimana semua warga Lust Shins bahkan, mengetahui tentang semua ini.
Oleh karena itu mereka berdua lebih membicarakan soal pekerjaan Lord Eviliam, atau Lord Hatent. Tapi itu tidak lama karena beberapa saat kemudian, pelayan yang tadi datang lagi dengan membawa dua cangkir putih beralaskan nampan.
“Silakan, Tuan”,katanya sambil meletakkan dua cangkir ke meja, lalu pergi.
Lord Eviliam dan Lord Ambush langsung menyeruput kopi mereka masing-masing.
“Kau memang benar, kopi ini enak.”,kata Lord Ambush sambil mengelap bibirnya.
“Tentu saja aku benar, aku tidak pernah salah, Ambush. Kau tahu itu.”
Lord Ambush hanya tersenyum masam mndengar Lord Eviliam. Beberapa saat kemudian, kopi mereka berdua habis, lalu Lord Ambush akan mengeluarkan dompetnya, tapi Lord Eviliam berkata:
“Aku yang mengajakmu kesini, dan aku yang membayar”
Lord Ambush tersenyum, dan membiarkan Lord Eviliam meniggalkan selembar uang ratusan dumon, lalu pergi dari restoran sempit itu. Keduanya keluar menuju tempat mereka memparkir Pockn masing-masing. Lord Ambush lebih dudlu sampai di Pocknnya.

--to be continued

The Bataille Aegis: Afellery, Interlude. Bab 1: Penelitian Un-Nrml, part 2

“Empat Aerollin? Hmm.. Alangkah pembohongnya kau, Ambush. Jangankan empat Aerollin, lima belas Aerollin-pun akan mampu kita beli jika kita sukses dalam penelitian ini. Tapi, kurasa wanita itu tidak menggunakan Aerollin untuk mencapai kesini, kurasa ia menggunakan kendaraan pribadi miliknya sendiri. Atau mungkin bukan kendaraan, mungkin ia naik awan, atau apalah. Tapi, sebelum ia sampai di kantorku, setengah jam sebelumnya, terdengat dentuman yang cukup keras. Karena hari itu amat mendung, kukira itu hanya petir, atau memang petir. Pokoknya, wanita itu tidak menaiki Aerollin. Selain itu, kalau ia menaiki Aerollin, pasti ia harus melewati polisi udara bukan? Ia tipikal wanita yang amat tidak peduli dan urak-urakan. Aku tidak yakin ia bisa melewatinya”
Sepertinya, topik pembicaraan telah habis bagi mereka berdua. Suasana perpustakaan jadi sepi, dan angin malam berhembus. Lord Eviliam menatap anggur yang dibawakan Ernie tadi. Botol tinggi, ramping, dan amat mengkilap berisi anggur terbaik itu duduk diam di atas meja, bersama dua gelas pendek yang transparan, dan amat mulus. Tidak ada belokan, atau gelombang di gelas itu. Hanya mulus, dan transparan. Lord Eviliam dan Lord Ambush tahu, saatnya untuk meminum anggur itu. Sayang sekali meninggalkan anggur terbaik itu.
“Kalau begitu, Ambush, sebelum aku pulang, mari kita bersulang untuk informasi cemerlang ini”,kata Lord Eviliam sambil mengangkat botol berisi anggur, dan membuka tutupnya, lalu menuangkan isinya ke dua gelas cantik itu. Isi anggur pada masing-masing gelas hanya setengah. Setelah menuangkannya, Lord Eviliam mengangkat dua gelas, lalu memberikan satu kepada Lord Ambush, dan Lord Ambush menerimanya.
“Ya, bersulang” Mereka mendentingkan gelas mereka, sebelum akhirnya menghabiskan anggur di dalamnya dalam satu tegukan.
“Anggur terbaik, adalah yang kau punya, Ambush. Ini anggur terenak di Tardust, aku rasa. Baiklah, kalau begitu. Hari semakin gelap, aku harus pulang. Istriku bisa marah-marah kalau aku membangunkanya saat ia sedang tidur” Lord Eviliam mengambil, lalu memakai mantelnya. Sehabis itu, ia menaruh kertas-kertas yang ia pegang ke dalam peti coklat, lalu bersiap meninggalkan Lord Ambush.
“Hatent, tunggu sebentar”,kata Lord Ambush tiba-tiba.
Lord Eviliam, yang sudah sampai di depan pintu, berhenti lalu menatap Lord Ambush dengan mimik muka bertanya-tanya.
“Bagaimana, penelitian itu?”
“Kalau kau setuju, dan ingin melanjutkan penelitian ini, datanglah ke taman Pavilier, jam dua belas. Aku tunggu kau di dekat lampu taman. Jika kau datang, kita lanjutkan penelitian ini, tapi jika tidak, aku rasa aku harus menjadi orang kaya sendirian, tanpa teman baikku. Keputusan ada di tanganmu sendiri, aku tidak memaksa” Lalu, Lord Eviliam meninggalkan Lord Ambush sendirian dengan perasaan bingung, akan penelitian menantang ini.
* * * *
Sebuah Pockn terparkir di halaman depan Coldan Hall. Pockn adalah kedaraan yang digunakan seperti mobil di Lust Shins. Pockn adalah tabung kaca yang mempunyai panjang tiga meter, dan lebarlebar dua meter. Pockn berjalan dengan cara melayang. Di bagian bawahnya, terdapat besi yang berbentuk seperti besi yang terdapat pada bagian bawah kereta luncur salju. Pockn itu mewah sekali, badannya yang berwarna hitam, mengkilap terkena sinar matahari yang hangat. Di dalam Pockn itu, terlihat Lord Eviliam sedang mencoba mengeluarkan tas kerjanya. Setelah keluar dari Pocknnya, ia langsung memanggil pelayan Coldan Hall yang rapi, dan bersih. Seorang perempuan, namanya Crichien.
“Crichien! Tolong parkirkan Pocknku. Parkirkan di tempat yang strategis, supaya aku bisa melihatnya saat pulang nanti. Dan, tolong katakan kepada Vinitra, bahwa aku membatalkan pertemuan dengan Bells Tralin jam dua belas nanti, aku ada keperluan mendadak yang amat penting”
“Baik, Lord Eviliam. Akan segera saya laksanakan” Dengan patuh dan cekatan, Crichien masuk ke dalam Pockn Lord Eviliam, lalu mengendarainya. Crichien adalah wanita yang cekatan, dan amat patuh kepada Lord Eviliam. Lord Eviliam adalah Tard Tralin kedua yang ia layani. Sedangkan Vinitra, sekretaris Lord Eviliam, adalah tipe wanita yang suka berdandan, dan selalu menyukai pria kaya.
Setelah mengawasi Crichien agar tidak merusak Pocknnya, Lord Eviliam masuk ke dalam Coldan Hall. Coldan Hall, adalah bangunan yang menjadi kantor para Tard Tralin. Bangunan itu berwarna krem, dengan bentuk persegi panjang, dan jendela-jendela dengan kaca yang mengkilap. Pilar-pilar tinggi terlihat seperti para raksasa yang menjaga Coldan Hall. Namun, bangunan bagus ini, terlihat sepi, dan tidak terurus semenjak masa jabatan Lord Eviliam, karena Lord Eviliam memecat banyak pelayan dan pembantu di Coldan Hall dengan alasan menekan pengeluaran. Karena itu, hanya tinggal Crichien, suaminya, Tommy dan lima orang pembantu dan penjaga kebun yang bekerja di Coldan Hall. Sekalipun tidak suka membayar banyak pelayan dan pembantu, Lord Eviliam amat suka meletakkan lukisan-lukisan dan barang-barang antik, yang menambah pekerjaan Crichien, Tommy, dan teman-temannya. Tapi, karena Lord Eviliam sang Tard Tralin, dan Crichien, Tommy, dan teman-temannya hanya pelayan, dan pembantu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Saat melihat Lord Eviliam datang, Vinitra langsung merapikan rambutnya, dan menebalkan lipstiknya, lalu langsung berdiri sambil berkata,
“Selamat pagi, Lord Eviliam, Anda kelihatan rapi pagi ini”
Namun, Lord Eviliam hanya diam saja, seakan-akan tidak ada orang yang berbicara padanya. Lalu langsung menutup pintu ruangan mewahnya dengan kasar, dan menggebrak. Vinitra tercengang melihat Lord Eviliam, lalu ia duduk, dan mengambil kaca dari dalam tasnya.
“Apa aku kurang cantik hari ini?”,katanya sambil merapikan bedaknya yang tidak berntakan. Bukan, ia bukannya tidak cantik hari ini, tapi, ia memang tidak cantik sama sekali.
Lord Eviliam membanting dirinya ke kursi, setelah ia melepaskan mantelnya (bukan mantel yang ia pakai saat berkunjung ke kastil Lord Ambush, karena ia mempunyai ratusan mantel di dalam kamar pakaiannya lalu memeriksa jadwal hari ini.
“Kunjungan ke sekolah… Pertemuan dengan Bells Tralin … Peresmian perpustakaan… Huh.. membosankan sekali. Apa tidak ada yang lain?” Lord Eviliam melempar kertas jadwalnya, lalu mulai ingat akan Lord Ambush. Ia tidak terlalu yakin dan tidak yakin akan kedatangan Lord Ambush siang nanti. Tapi, kalau begitu, mengapa ia membatalkan janjinya dengan Bells Tralin?
“Ah, Ambush. Aku tahu sifatmu. Kau paling suka dengan uang, kesuksesan, dan kekayaan. Kau pasti datang, aku yakin.”,kata Lord Eviliam sambil tersenyum.
* * * *
Lord Ambush sedang menikmati makan siang yang dibawa Ernie dengan lahap. Ernie bukan pelayan satu-satunya yang bekerja di kastil Lord Ambush, tapi Ernie adalah pelayan kesayangan Lord Ambush. Ia hanya menyantap roti panggang dengan telur, dengan kopi, teh, dan susu. Sinar matahari yang terik memasuki ruangan makan Lord Ambush yang luas. Lukisan-lukisan para leluhur Lord Ambush mewarnai ruangan makan yang sepi itu.
“Ernie, tolong ambilkan telur lagi. Dua butir”,kata Lord Ambush kepada Ernie yang sedang membawakan stoples pendek berisi gula, garam, dan merica.
Ernie langsung meletakkan ketiga stoples ke meja, dan kembali ke dapur untuk mengambil telur. Lalu, kembali delapan menit kemudian.
“Ernie, menurutmu, kalau kita ingin kaya, kita juga harus mengeluarkan uang yang banyak?”
“Ah, Tuan. Mengapa Anda bertanya seperti itu pada orang bodoh, dan miskin seperti saya? Saya tidak tahu sama sekali soal bisnis. Tapi, kalau menurut saya, Tuan harus jalani yang Tuan yakinkan. Walaupun nanti Tuan gagal, tapi Tuan tidak akan berkata menyesali pilihan yang telah Tuan ambil”
“Yah, walaupun kau bilang kau bodoh, dan miskin, kurasa kau tidak seperti itu, Ernie. Gaya bicaramu seperti orang yang berpendidikan. Huh, ini saat aku harus menentukan pilihan yang amat berat. Apa yang harus kupilih?” Ernie diam, karena ia yakin, pertanyaan itu tidak ditujukan kepadanya. Ernie tidak pernah melihat mimik muka Lord Ambush saat ini. Wajahnya pucat, dan berkeringat. Kakinya tidak bisa diam, dan kepalanya tertunduk, menatap sarapannya.
Ernie bingung melihat tuannya seperti itu.
“Tuan, jika Anda ingin, saya bisa..”
“Ernie, siapkan Pocknku. Aku akan pergi ke taman Pavilier. Cepat” Ernie mengangguk, lalu bersiap menuju garasi.
Lord Ambush bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia telah mengambil keputusan yang tepat, atau keputusan yang akan mengagalkannya? Ia langsung membuang jauh-jauh pikirannya itu, lalu meninggalkan meja makan, menuju kamarnya, untuk mengganti baju, dan mengambil mantelnya.
Setelah siap, Lord Ambush berjalan menuju depan, dan menemkan Ernie telah siap dengan Pockn terparkir di halaman depan kastil.
“Ernie, ini urusan pribadi. Kau tidak perlu ikut. Aku akan menyetir sendiri. Bereskan bekas sarapanku, lalu beri makan Domm. Kuncinya?” Ernie langsung memberikan kunci Pockn pada Lord Ambush, lalu melihat Lord Ambush mengendarai Pockn keluar dari halaman kastil, lalu gerbang kastil tertutup.
“Oh, Tuan. Aku rasa, keputusan yang telah Tuan ambil bukan keputusan yang benar”,kata Ernie, lalu masuk ke dalam kastil, dan memanggil anjing Lord Ambush, Domm.
Di jalan, Lord Ambush merasa bahwa keputusan yang ia ambil merupakan keputusan yang tepat. Lalu ia mulai melambati jalan Pocknnya, saat gerbang Coldan Hall mulai terlihat, dan ia tidak melihat Pockn Lord Eviliam, jadi ia mengambil keputusan sendiri, sambil terus mengendarai Pocknnya.
“Hatent, kau memang tahu. Tahu bahwa aku akan menemuimu”,kata Lord Ambush sambil mengarahkan Pocknnya kearah taman besar, dan indah, taman paling terkenal di Tardust yang penuh dengan pohon, Pavilier.


--to be continued

Saturday, July 5, 2008

The Bataille Aegis: Afellery, Interlude. Bab 1: Penelitian Un-Nrml, part 1

Bab 1
Penelitian Un-Nrml
Malam hampir menjelang di Tardust. Tardust adalah wilayah yang kelabu. Penduduknya amat tidak suka berbicara. Wilayahnya sepi, walau didiami banyak penduduk. Bangunan di Tardust kebanyakan berwarna hitam kecoklatan yang hampir runtuh. Rumah-rumah penduduk juga terletak jauh antara satu sama lain.
Kini, bukit-bukit telah menjadi bayangan besar yang gelap. Orang-orang mulai pulang kerumah mereka masing-masing setelah bekerja seharian. Di sebuah bangunan tua yang besar, telihat seorang pria sedang berjalan di koridor. Di sekitar bangunan itu gelap sekali, hanya koridor itu yang terang. Koridor itu terang karena obor yang dipasang setiap sepuluh meter. Sambil membawa sebuah peri coklat lusuh, pria itu membuka pintu di sebelah kirinya dan masuk ke dalamnya. Pintu itu menghubungkan pria itu dengan koridor lain yang lebih gelap dan lebar dari koridor sebelumnya. Obor-obor hanya dipasang setiap dua puluh meter. Di luar koridor itu, bisa terlihat sebuah taman luas yang lebih terlihat seperti hutan. Pohon-pohon tinggi menjulang, dan burung gagak mengeluarkan suaranya. Mantel hitam yang dikenakan pria itu bagus sekali. Tebal, dan bahan wol-nya amat hangat, walaupun mantel itu sedikit robek di bawahnya, karena ketika pria itu akan menaiki tangga, jung peti yang rucing dan tajam menyangkut di bagian bawah mantelnya, dan terpaksa ia harus menariknya, dan itu menyebabkan mantel itu robek.
“Sial! Aku telah merobek mantel ini! Lima ratus dumon rusak!” Begitulah perkataan pria itu ketika melihat mantelnya robek. Dumon adalah nama mata uang di Lust Shins. Satu dumon kira-kira senilai satu dolar Amerika.
Masih dengan membawa (lebih tepatnya menyeret) peti itu, ia menyusuri koridor. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian kemeja putih, dan celana panjang hitam (pelayan lebih tepatnya), keluar dari belokan yang terdapat di depan pria itu. Si pelayan kaget setengah mati, tapi si pria diam saja. Setelah menenangkan dirinya, pria itu melihat wajah pria itu lalu membungkukkan kepala dan badannya sambil berkata dengan terbata-bata,
“Oh, maafkan saya jika telah mengagetkan Anda, Lord Eviliam! Anda ingin bertemu Lord Ambush, bukan? Ya, ya… Dia telah menunggu Anda di perpustakaan. Anda…”
Pelayan itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena Lord Eviliam (atau Lord Hatent, karena nama panjangnya Hatent Eviliam) memotong kalimatnya.
“Kau bodoh sekali, Ernie. Bahkan anjingku tidak sebodoh dirimu. Akan kukatakan pada Ambush bahwa ia membutuhkan pelayan baru yang tidak bodoh sepertimu”, kata Lord Eviliam datar.
“Maaf sekali, Lord Eviliam! Tolong jangan katakan pada Lord Ambush. Baiklah, apa Anda ingin minum?”
“Ya, tapi aku bingung ingin minum apa. Mungkin kau bisa member saran Ernie?”
“Eeehh, bagaimana kalau teh?”
“Terlalu biasa. Amat membosankan. Yang lain?’
“Kalau kopi? Amat menghangatkan, tuan”
“Kalau aku tidak bisa tidur, bagaimana? Kau ingin tanggung jawab? Yang lain? Apakah dapur Ambush hanya berisi minuman-minuman membosankan seperti itu?”
“Baik, tuan. Bagaimana kalau anggur?”
“Sempurna, Ernie. Cepat antarkan anggur terbaik ke perpustakaan, sekarang Ernie. Jangan lupa, siapkan dua gelas. Untukku, dan Ambush”
“Baik, Lord Eviliam” Pelayan itu langsung kearah yang berlawanan dengan Lord Eviliam. Langkahnya terburu-buru dan gelisah. Pria bermantel hitam itu menatap sang pelayan berjalan sampai akhirnya si pelayan menghilang dari pAndangannya. Setelah itu, ia kmbali berjalan, dan menyeret peti coklatnya. Kali ini, langkahnya lebih pelan dan tenang. Suara yang dikeluarkan oleh peti yang diseret itu, satu-satunya suara yang menemani Lord Eviliam. Koridor itu amat sepi, dan luas. Suara burung gagak sudah tidak terdengar lagi. Setelah beberapa saat, pria itu berhenti, lalu menoleh ke kiri dan kanan. Di ujung koridor satu ini, terdapat sebuah ruangan yang pintunya setengah terbuka, dan memancarkan sinar oranye yang hangat yang berasal dari lampu pijar yang dipasang di dalam ruangan itu. Dari luar, terlihat banyak rak-rak buku yang menampilkan buku-buku yang kebanyakan bersampul coklat, atau kelabu yang sudah lusuh. Masih dengan menyeret peti, Lord Eviliam berjalan menuju ruangan perpustakaan tersebut, sepatu kulit hitam mengkilap yang dipakainya berderap menimbulkan suara. Setelah beberapa saat kemudian ia berjalan, akhirnya ia sampai di depan pintu ruangan itu, lalu ia mendorong pintu ruangan itu sepenuhnya, agar ia dan petinya muat masuk ke dalam. Seorang lelaki yang sudah tua, yang sedang membaca buku, menoleh kearahnya.
“Hatent, kau baru datang? Kemari, bukalah mantelmu, dan duduklah di sampingku. Ernie baru saja keluar dari sini. Sebentar lagi ia akan datang kesini, membawakan minum”,kata pria itu sambil tersenyum, bukan senyum yang menyatakan keramahan, tetapi lebih seperti senyum yang menyatakan kelicikan, kekuasaan, dan sebagainya.
Lord Eviliam melepas mantelnya, lalu duduk di samping Lord Ambush, peti coklatnya ia tinggal di depan pintu. Tergeletak di jalan.
“Ya, aku sudah bertemu Ernie di koridor tadi, oh, ia bodoh sekali. Mengapa kau mempekerjakan orang sebodoh ia, Ambush. Apa tidak ada yang lebih baik?”
Lord Ambush hanya tersenyum mendengar perkataan Lord Eviliam yang menghina.
“Aku bawa bukti”,kata Lord Eviliam sambil menatap Lord Ambush, lalu menarik pAndangannya ke peti coklat miliknya. Dan Lord Ambush mengikutinya.
“Di dalam peti itu?” Lord Ambush menatap Lord Eviliam sebelum akhirnya ia kembali menaruh pAndangannya ke peti coklat itu lagi, dan lalu Lord Eviliam mengangguk.
“Kau masih percaya ini, Hatent? Sudah tiga puluh tahun semenjak penelitian ini dilupakan. Bahkan, Un-Nrml Centrè telah ditutup”
“Terlupakan. Bukan tidak ada. Kukira kau seperti aku, percaya bahwa Un-Nrml itu ada seumur hidup. Apa kau sudah menjadi lelaki tua yang bodoh, dan buta untuk meyadari kenyataan ini, Ambush? Kita adalah dua orang pertama yang merintis penelitian ini, dan sekarang kita akan membangunannya lagi”
“Kau lupa? Memang, belasan tahun pertama sejak Penelitian Un-Nrml dimulai, penduduk Tardust amat mendukung penelitian ini. Tapi, tiga puluh tahun terakhir? Penduduk Tardust mulai melupakannya karena tidak ada hasil dari penelitian ini yang nyata, dan kau, kau mulai beralih ke dunia politik. Kau mencalonkan diri sebagai Tard Tralin, dan aku sendirian, menghabiskan waktu di kastil tuaku, sampai Un-Nrml Centrè ditutup”
“Aku mencalonkan diri sebagai Tard Tralin, agar aku bisa menyebarluaskan penelitian ini, Ambush! Kapan kau akan mengerti? Kau selalu berpikir bahwa kesuksesan datang secara instan”
“Kau yang tidak mengerti, Hatent. Aku telah mengeluarkan lebih dari delapan ratus dumon untuk penelitian ini!”
“Kau kira aku tidak mengeluarkan uang untuk penelitian ini? Kau..”
“Tunggu dulu, tadi kau bilang, kau mencalonkan diri sebagai Tard tralin agar bisa menyebarluaskan penelitian ini? Sejak terpilih jadi Tard Tralin, kau lupa akan hal ini, kau hanya peduli akan jabatan, uang..”
“Aku sibuk dengan jabatan? Ya, memang tentu saja, karena peristiwa Zalfrus, yang menewaskan lebih dari lima ratus orang, kerusuhan di Coldan Hall yang merusak gedung bersejarah di Tardust, dan pembajakan kapal mewah Lartintu Qor, yang hampir menewaskan keluarga Courl Everlyn, membuat Courl Everlyn mengawasiku! Karena ia pikir, Tard Tralin sebelumnya tidak menyebabkan kejadian ini!”
“Kau masih seperti dulu, Hatent Eviliam. Ya. Kau hanya peduli pada sesuatu yang berada saat kau sukses.” Lord Ambush menggelengkan kepalanya tAnda dia sudah lelah dan sebal akan perkataan Lord Eviliam yang memaksa.
Tiba-tiba, Ernie datang sambil membawa anggur pesanan Lord Eviliam. Ia sadar, ia telah datang di waktu yang amat tidak tepat. Ia berhenti di luar pintu dengan mulut menganga, dan gelas berdenting.
“Jangan melamun, Ernie bodoh! Cepat letakkan anggur itu di meja, dan pergi dari sini. Cepat, cepat!”, sahut Lord Ambush.
Langkah Ernie cepat tapi hati-hati, menAndakan ia amat hati-hati agar tidak mengenai peti Lord Eviliam, dan ingin segera pergi dari ruangan itu. Setelah ia meletakkan anggur itu di meja, ia langsung berlari meninggalkan ruang perpustakaan (tentu saja dengan hati-hati agar tidak tersandung oleh peti Lord Eviliam).
“Oh, baiklah. Bukti apa yang kau bawa? Ada apa di dalam peti itu?”,kata Lord Ambush malas. Lalu, Lord Eviliam berjalan menuju peti coklat, dan membukanya. Setelah itu, ia mengambil tiga lembar kertas yang sudah berwarna kuning dan lusuh.
“Oh, Hatent. Ayolah, aku ingin bukti yang nyata”
“Bukti ini nyata, Ambush. Kertas-kertas ini berisi informasi tentang Un-Nrml. Yang ini, adalah daftar nama murid di sebuah sekolah di Bells Clevrine, tahun 2134. Yang ini, adalah riwayat hidup seorang pria bernama Crife Lè Dauwn, dan terakhir, secarik kertas yang paling utama”
“Apa hubungan Un-Nrml dengan sekolah di Bells Clevrine?”
“Tahun 2134, seorang penduduk Aublace, yang bernama Crife Lè Dauwn tersebut, datang ke Bells Clevrine untuk sekolah, lalu…”
“Tunggu dulu, kenapa harus ke Bells Clevrine? Aublace mempunyai dua sekolah bagus, bukan? Afellery dan Interlude”
“Dengarkan dulu! Pada tahun 2134, Aublace adalah daerah kecil, belum maju. Penduduknya sedikit, dan bodoh. Itu yang menjadikan Aublace daerah miskin zaman itu. Dan pria itu datang ke Bells Clevrine untuk bersekolah, karena zaman itu, Bells Clevrine adalah daerah yang amat maju”
“Yah, sekarang-pun masih”,sela Lord Ambush.
“Tapi, sekarang kemajuan daerah Bells Clevrine kalah oleh Aublace. Tolong dengarkan ya, lalu pada tahu 2141, Crife kembali ke Aublace, dan mulai mengajar anak-anak Aublace di sebuah gedung kecil yang tidak terpakai. Lima tahun kemudian, Crife, dan dibantu dengan keluarga kaya Aublace yang hanya beberapa, mulai membangun gedung sekolah. Sekolah itu dinamai Crife Phlinis”
“Phlinis? Itu artinya akademi, bukan?”
“Ya, dengarkan Ambush! Sekali lagi kau menyela, lihat saja! Dan lalu, terjadi perseteruan di akademi itu, lalu lima puluh tahun kemudian, sekolah itu terbagi menjadi dua, Afellery dan Interlude, seperti yang kita kenal sekarang, dan seperti yang kau bilang tadi”
“Bagus sekali, Hatent. Informasi itu amat berharga. Tapi, dari mana kau mendapatkan informasi bagus begini?”
“Aku mendapatkannya dari seorang Un-Nrml sendiri. Kau percaya sekarang?”
“Apa? Mengapa kau tidak menggunakan Un-Nrml yang kau temui itu untuk melakukan penelitian ini? Kau bodoh, bodoh.. sekali Hatent”
“Kau ingin aku mati? Un-Nrml yang kutemui adalah seorang wanita cantik yang mempunyai kekuatan amat besar. Ia bisa membekukan apapun menjadi es. Kalau aku menggunakannya, aku mungkin tidak bisa menemuimu disini, dan sekarang aku mungkin telah menjadi balok es”
“Siapa wanita itu, Hatent?”
“Dia kepala sekolah Interlude sekarang. Aku tidak tahu kenapa, mengapa ia sangat membenci orang-orang Aublace. Aku mengetahuinya dari caranya berbicara. Tapi, saat membicarakan Afellery, mimik mukanya jauh lebih menyeramkan, dan aku yakin, ia membenci Afellery lebih dari apapun. Dan anehnya, ia amat mendukung kita untuk melakukan penelitian ini, dan memusnahkan semua Un-Nrml, kecuali dia dan beberapa orang yang ia pilih agar tidak dilukai”
“Jadi, itu semacam perjanjian?”
“Yah, semacam itu. Tapi, kurasa, ini perjanjian yang amat bagus. Kita bisa menunjukkan pada Lust Shins bahwa Un-Nrml itu ada. Dan, wanita itu tidak meminta uang sedikitpun. Ia hanya ingin aku menghancurkan Afellery sampai ke Afelle terakhir. Kurasa, ada suatu masalah antara wanita itu dengan Afellery”
“Afelle? Itu artinya para murid Afellery, bukan? Hmm… Kurasa wanita itu mempunyai dendam pada Afellery dan semua orang yang berhubungan dengannya. Kau yakin akan perjanjian ini? Kau yakin wanita itu betul-betul akan membantu kita? Dia seorang Un-Nrml, bukan manusia biasa seperti kita. Mengapa ia membantu kita? Bukan membantu sebangsanya? Itu lumayan aneh, Hatent. Aku tidak percaya akan hal ini. Mudah-mudahan saja hal itu benar. Kau tahu, bukan? Aku amat tidak suka dibohongi”
“Ambush! Jangan berbicara seperti itu. Aku percaya pada wanita itu. Walau aku tidak yakin, kalau pada akhirnya, aku harus menepati perjanjian ini. Untuk apa menyisakan Un-Nrml?”
“Kita memang cocok, Hatent, kita memang serakah”
“Tentu saja, kalau tidak serakah, bagaimana kita bisa sekaya ini? Yang benar saja”
“Tapi, omong-omong, bagaimana caranya kau bertemu wanita itu?”
“Aku tidak tahu. Tiga hari lalu, ia datang ke kantorku. Ia langsung katakan bahwa ia adalah manusia yang mempunyai kekuatan, dan ia juga mempunyai informasi tentang manusia semacam itu. Lalu ia langsung mengadakan perjanjian tersebut. Aneh ya?”
“Ya, memang aneh. Tapi, apakah kau tidak menanyakan sesuatu pada wanita itu? Misalnya, siapa dia?”
“Tentu saja, aku bertanya. Tetapi, waktu aku bertanya, ia hanya menjawab, bahwa dia adalah kepala sekolah Interlude. Itu saja, tidak lebih, bahkan tidak kurang”
“Aublace amat jauh dari sini, apakah kau tidak menanyakan bagaimana caranya bisa sampai di sini? Mungkin memakai Aerollin, atau apa?”
“Aku rasa tidak. Jarang sekali aku mendengar ada Aerollin yang mendarat di Aublace. Lagipula, jumlah Aerollin sangat sedikit, apa yang membuatmu berpikir bahwa wanita Un-Nrm itu mempunyai Aerollin? Aku sendiri tidak mempunyai Aerollin! Ya, tapi kau punya satu, mungkin dua, yang tidak kuketahui”
“Jangan berpikir bodoh, Hatent! Oh, baiklah, aku memang mempunyai dua Aerollin, malah aku mempunyai empat Aerollin” Lord Eviliam benci mengakui hal ini, tapi ia agak kesal ketika Lord Ambush menyombongkan empat Aerollin kepunyaannya. Sebetulnya, Lord Eviliam mempunyai satu Aerollin, tetapi, Aerollin-nya terjatuh di sebuah jurang saat ia mencari Un-Nrml di daerah perbatasan Bells Clevrine dan Tardust empat puluh tahun lalu. Dan kini, ia sedang memasan Aerollin kepada seorang pembuat Aerollin terkenal di Lust Shins. Aerollin adalah balon udara. Jumlah Aerollin di Lust Shins tidak banyak, tapi tidak sedikit pula. Hanya para Tralin, sekolah, polisi udara dan orang kaya yang amat kaya yang mampu membeli dan punya Aerollin.

--to be continued

Tuesday, July 1, 2008

Funtrip

1st July
Wahaha akhirnya gua jadi ke Museum Gajah. Tadi dari blok m naek busway ke monas, lalu nyebrang ke museum gajah sama Phl dan Samira. Tadinya mau ke monas, cuma kita gak tau dimana pintu masuknya, mana panas, jadi akhirnya kita ke museum fatahillah yg di kota toea. Busjet, emejing bener gua ngeliatnye. Terus kita foto-foto dan nyewa sepeda (begaya aje, naeknya sih.........) Terus kita ke pasar pagi, dan gua emejing (lagi) masa iket rambut satu pelastik yg kira-kira isinya 50, cuma 5000 perak. Bayangin! (norak dah lu Alkasina) abis itu kita naek busway lg, dan ketemu bule cakep berkaos merah (mas-mas bergigi tonggos berkaos merah juga ngira kita ngomongin die -.-) funtrip berakhir dengan Samira turun di bendhil, dan gua dan Phl di blok m. Phl naek 70, dan gua jalan ke blok m plaza beli quickly. Okay, that's it for today ya. Kalo ada funtrip lagi ikut ya all! Daaaaaaaaaaah

Monday, June 30, 2008

Mekel Jeksen malop

Ah secinta-cintanya sama si Mekel Jeksen, enek juga lama-lama. Ah saya kangen sama dieee aw eh tapi dia temen ceweknya banyak loh z padahal gua mau ngajakin die ke musium gajah, tapi hanya tinggal kenangan saja karena saya loskontak sama die. Ah minta dibakar

Sunday, June 29, 2008

Salah ngambil

sat, 28th June
ZARA diskon men. Langsung dah gua loncat-loncat. Nah, pada saat itu keadaan ramai sekali. Mana ada anak ilang juga -.- Di tempat raknya gitu dah, ada tas backpack kotak-kotak pink (BAGUS BANGET SUMPAH) gitu. Karena keadaan penuh, akhirnya gua ambillah tas itu, karena gua kira dijual. Saat gua menuju kasir, ada seorang wanita cina yang teriak-teriak, 'mbak-mbak!' kearah gua. Dengan muka bingung bloon, gua mendekati wanita itu. Terus gua nanya, 'ada apa ya?' lalu dia menjawab 'itu tas saya'

First

Blog pertama hihi (norak gua)